jelaskan alasan ibnu hajar melepaskan diri dari angkatan laut indonesia​

Diposting pada

Pertanyaan

jelaskan alasan ibnu hajar melepaskan diri dari angkatan laut indonesia​

Jawaban #1 untuk Pertanyaan: jelaskan alasan ibnu hajar melepaskan diri dari angkatan laut indonesia​

Jawaban:

Nama Ibnu Hadjar tak bisa dilepaskan dari organisasi bernama Kesatuan Rakjat jang Tertindas (KrjT) yang eksis sejak awal 1950. Organisasi ini menghimpun bekas gerilyawan alias pejuang kemerdekaan Republik yang melawan tentara Belanda di sekitar kabupaten Hulu Sungai. Setelah pengembalian kedaulatan karena Konferensi Meja Bundar di Den Haag (1949) membuat mereka kecewa terhadap pemerintah.

Setelah 1950, Ibnu Hadjar yang buta huruf itu pun ikut menjadi bahan bacaan koran, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Namanya hadir di media karena aksi yang dilakukannya: pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Kalimantan Selatan yang ingin mendirikan Negara Islam. Tak banyak yang menyadari bahwa dia dan kawan-kawannya memberontak karena tak diterima masuk TNI, padahal mereka bekas pejuang.

Susah Masuk TNI

Banyak bekas tentara Belanda (KNIL), yang bisa dibilang musuh republik saat Perang Revolusi 1945-1949, diterima masuk Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Setelah Republik Indonesia Serikat (RIS) bubar pada 17 Agustus 1950, mereka kemudian jadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Di sisi lain, para pejuang dari desa di belantara Kalimatan Selatan yang pernah tergabung dalam Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Divisi IV itu, hanya sedikit yang bisa masuk APRIS/TNI. Kedatangan TNI dari Jawa juga membuat para pejuang itu merasa tak dipercaya mengisi posisi-posisi di pemerintahan sipil dan militer.

Bekas gerilyawan pejuang itu merasa terlalu banyak jabatan penting diduduki orang-orang dari luar Kalimantan, khususnya dari Jawa. Orang-orang eks KNIL juga mereka anggap sebagai orang-orang “cacat” karena pernah bekerja untuk Belanda.

“Karena Pemerintah dan Tentara sedikit pun tidak bermaksud memenuhi tuntutan pihak gerilyawan atau memindahkan beberapa pamong daerah dan perwira yang tinggi kedudukannya, kedua pihak mencapai jalan buntu sama sekali,” tulis Muhammad Iqbal, dalam tesisnya Kesatuan Rakjat Indonesia jang Tertindas (KRjT): Pemberontakan Ibnu Hadjar di Kalimantan Selatan, 1950-1963 (2014).

Mereka sudah pasti kecewa, tak terima atas nasib malang itu. Kekecewaan dari banyak orang yang masih bisa memegang senjata adalah sesuatu yang berpotensi menjadi celaka. Di antara mereka ada orang yang dianggap berpengaruh, yakni Ibnu Hadjar yang pada awal tahun 1950 sudah berpangkat Letnan Dua.

Seperti banyak bekas pejuang yang kecewa tadi, Ibnu Hadjar juga buta huruf—tak bisa baca-tulis huruf latin. Mereka orang desa yang tak mencicip bangku sekolah. Meski buta huruf, menurut catatan Kees van Dijk dalam Darul Islam: Sebuah Pemberontakan (1995), dia berhasil jadi komandan satuan-satuan gerilya di Kandangan, Hulu Sungai, Kalimantan Selatan.

Mereka bergerak sambil tetap berharap diterima ke masuk TNI. Tentu, tanpa harus lulus tes baca-tulis. Namun, tak ada sinyal positif untuk mereka. Tak lama berpangku tangan, kawan-kawan Ibnu Hadjar itu beraksi menyerang pos-pos TNI.

Koran Indonesia Berdjuang (20/03/1954) dan Kes van Dijk mencatat semula Ibnu Hadjar hanya memimpin 60 orang saja ketika masih berdiam diri di awal tahun. Setelah serangan ke pos TNI pada bulan Maret 1950, pengikutnya bertambah sekitar 250 orang, dengan senjata hanya 50 pucuk bedil. Letnan Dua TNI yang memimpin sebuah peleton biasanya hanya punya anak buah tak lebih dari 50 orang. Namun, itu tak berlaku untuk seseorang yang menjadi pemimpin gerombolan.

Bulan Oktober 1950, pemerintah masih menyambut damai para gerombolan yang ingin menyerah. Ibnu Hadjar masuk kota. Dia menyatroni penguasa yang berwenang di sana. Setelah dia dibebaskandan diminta membujuk kawan-kawan gerombolannya untuk menyerah, Ibnu Hadjar masuk hutan dan tak pernah nampak lagi batang hidungnya di hadapan penguasa lokal tadi.

Selama belasan tahun, Ibnu Hadjar dikenal sebagai gerombolan yang diajak kerjasama DI/TII Kartosoewirjo, sebagai Panglima Angkatan Perang Tentara Islam (APTI)cabang Kalimantan Selatan.

Baca: Kartosoewirjo, Proklamator Negara Islam Indonesia

Akhir Hidup Bekas Pencari Madu

Peneliti sejarah Muhammad Iqbal berhasil menemui keponakan Ibnu Hadjar, Suliman Juhri, yang berusia 75 tahun. Suliman saat masih kecil, sekitar 10 tahun, pernah melihat dan mengenal sang paman yang bernama asli Haderi bin Umar.

“Ayahnya bernama Umar. Ibunya bernama Siti Hadijah, putri dari seorang kepala suku Dayak di Tamiang Layang (Kalimantan Tengah),” ujar Suliman. Pemuda Banjar-Dayak ini punya adik kandung bernama Dardiansjah yang juga ikut gerombolan sang paman.